Jejak Rasa
Aku lahir dari rahim langit. Besar di pulau bumi paling barat, paling hujung, jauh dan sepi. Tempat berpulangnya siang. Aku pengembara yang terus mencari alasan kenapa aku dilahirkan ke bumi. Namun aku percaya, suatu saat kelak aku akan kembali ke langit yang diwariskan hanya untukku. Menjadi pemimpin angkasa. Melalui sajak-sajak ini aku meninggalkan jejak, tentang rasa, tentang Cinta.
Rabu, 10 September 2025
Belum Saatnya (Rehat)
Senin, 24 Februari 2025
Mereka
Kamis, 04 April 2024
Terimalah Sujudku
Eunoiaku, maafkan aku
Aku belum mampu menjadi imam dan guru yang baik bagimu
Aku tak cukup baik untuk menjadi supir menuju syurga hakiki itu
Maghrib yang khitmad ini, diatas loteng dengan semilir angin senja penuh sendu, bersebar walet-walet mencari makan; ramadhan akhirnya datang ke hatiku
Cahya Illahi menyentuh kalbu
Eunoia kekasihku
Perlahan gelap melingkupi dunia singgah kita
Hadirmu adalah syukurku tak terkira
Allah begitu menyayangiku, si makhluk berlumur lumpur kegelapan ini
Semoga aku selalu diberi jalan untuk kembali pada-Nya, begitupun kau
Walet-walet telah pulang ke sarang
Serangga-serangga mulai bersorak dari balik reremputan
Namun lamunku tetap tinggal pada dosa-dosa yang aku torehkan pada kanvas kehidupan
Bintang gemintang mulai terbit berkdip-kedip
Dingin yang menghampiri tak mampu mengalahkan hangatnya kasihmu
Namun aku masih dalam resah bersalah yang menggunung dipundakku
Akankah aku tetap dipercayakan untuk menjagamu?
Akankah aku masih pantas membersamaimu bidadari syurga-Nya?
Eunoia kekasihku, maafkan aku
Izinkan aku mensucikan lagi cinta ini
Izinkan aku untuk terus memperbaiki luhur niatku
Karena kepada-Nya lah kita kan diminta pertanggung jawaban
Lubuk Pakam, 24 Ramadhan 1445 H
Kamis, 07 Maret 2024
Sabda Iblis
Kalian takkan pernah memilikiku
Jikapun kalian dapat menyentuhku, itu karena kerendahan hatiku meminjamkannya padamu
Kalian takkan pernah menundukkanku
Jikapun lembut sikapku, itu karena keibaanku pada lemah dirimu
Kalian takkan pernah memutar arahku
Jikapun kalian dapat perhatianku, itu karena kebodohanmu mengganggu
Kalian takkan pernah memerintahkanku
Jikapun aku mengikutimu, itu karena aku ingin menyaksikan kejatuhanmu
Aku muak!
Keangkuhan kalian membuatku murka
Kalian memaksaku memuntahkan makian
Membuatkan ingin menyakiti
Menghancurkan
Melenyapkan
Ketahuilah, manusia!
Aku hanya hidup dalam altar kedamaianku
Aku hanya peduli atas hasrat dan keinginanku
Aku takkan hidup untuk hidupmu
Aku takkan peduli atas apa yang kalian pedulikan
Selamanya begitu, dengan atau tanpa adamu
Sabda iblis yang terbelenggu di dalam tubuh
Sabda iblis yang memaksa bangkit mengambil alih
Sabda iblis yang menyiksa akal
Sabda iblis yang telah merajai ruang-ruang kesunyian
Sabda iblis dari palung kegelapan
Iblis ini bernama: Aku
Jumat, 09 Februari 2024
Bahkan Engkau, Sayang
Pada akhirnya segala sepi ini pun tak mampu kubagi padamu
Pada saatnya ironi ini pun sampai juga padaku
Takut yang aku khawatirkan
Khawatir yang kuenggani
Tak ada satu pun bahkan engkau mampu melihat isi
Kalian hanya mengcemaskan kulit-kulit semu:
Disibukkan oleh pengalih-pengalih yang hanya akan membasahi dahaga nafsu, yang kan menjebak agar tetap hidup dalam mimpi tak berujung
Hal remeh temeh yang kelak akan menjadi abu ditaman, termakan waktu, lalu lenyap pula ketika kita akhiri hidup yang fana ini
Tak satupun selain aku yang mengerti betapa rasa dan makna lebih esensi
Bahkan engkau
Sesal tak akan menyerangku malam ini
Aku telah mengetahui betapa luka ini akan datang untuk kutelan atau justru menelanku pada waktunya
Duka ini tak mengejutkanku
Keibaan akan sejati menemani mereka yang telah lama kehilangan jiwa, pun aku
Pada akhirnya aku tetap sendiri, tak mampu kubagi resah ini
Indahmu akan tergores, kan mengaburkan senyum ayumu
Senyum yang sangat aku cintai
Tak satupun selain aku yang menjagamu layaknya aku
Tak satupun selain aku yang menikahimu layaknya aku
Tak satupun selain aku yang akan terus menelanjangimu layaknya aku
Hanya kepadamu aku menjaga
Hanya kepadamu aku menikah
Hanya untukmu aku telanjang
Tak satupun bahkan kau yang mampu melihat bungkus-bungkus palsu ini
Lubuk Pakam, 9 Februari 2024
Senin, 11 Desember 2023
Lelaki dan lamunan
Malam tiba-tiba terbahak tawa mencibirku
Sedang Gusti Allah masih dalam senyum-Nya yang penuh kasih memandang si bodoh nan lalai ini
Sunyi tak mau kalah menambahi: Adakah yang lebih setia dari aku? Adakah yang lebih fana dari duniamu?
Tanpa kusadari belasan serangga bermain berputar-putar mengintari lamunan
Aku hanya bisa tersenyum malu
Aku tau, setidaknya pernah ada di yakinku:
Segala yang terlihat, semua yang terasa hanya sesaat sementara
Hidup bukan bagaimana berharap ini dan itu
Hidup hanya perenungan panjang di ruang tunggu
Berusaha mengurai menguliti makna sejati
Sama seperti suka, duka pun akan berlalu
Sama serupa cinta, hampa pun akan tiba
Kepada Gusti Allah yang terus bersamaku:
Jangan biarkan lagi aku lalu pada kesemuan rasa dan logika
Kepada malam yang terlanjur bahagia, telan aku dalam dinginmu
Lubuk Pakam, 11 Desember 2023
Sabtu, 18 November 2023
Akan selalu (dan akan terus begitu)
Sajak cinta ini aku abadikan untuk dia yang paling terkasih: Nur Maysaroh Siregar, tunanganku
Akan selalu
Aku mencintai apa yang ada, apa yang terjadi pada dirimu: raga ataupun jiwa (dan akan terus begitu)
Aku pun telah bersumpah pada diriku sendiri
Bahwa aku akan selalu
Mensiasati segala hal yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi diantara kita (dan akan terus begitu)
Aku akan selalu
Menemukan cara kembali pada dekap-pelukmu (dan akan terus begitu)
Aku akan selalu
Menjaga cintaku padamu sayang, hingga hingar bingar hidup ini mulai monokrom di cakrawala usia kita (dan akan terus begitu)
Percayalah kasih, hanya padamu tubuh ini kan merebah
Hanya padamu resah-gelisah ini kan mencari peluk
Hanya padamu gairah hidupku menemukan nyawa dan makna
Karena cahayamu terlalu binar untukku berpaling
Karena indahmu telalu anggun untukku melirik
Karena cintamu sangat tulus untuk aku sia-siakan
Ijinkan aku mengecup hidupmu selamanya
Bolehkan aku tinggal disisimu pada setiap kehidupan
Binjai, 18 November 2023
Kamis, 26 Oktober 2023
Mengadu II
Minggu, 17 September 2023
Berulangnya Tragedi
Dan sampailah cerita cinta ini pada tragedi
Pada ironi yang sama
Hujan tak mampu lagi membuatku basah dan dingin
Luka tak mampu lagi membuatku merasakan sakit
Tapi sikap dan perasaan mereka mampu membuatku jatuh sedalam ini
Misteri kehidupan benar-benar sulit aku siasati
Sedang cinta yang datang sebagai keluhuran menikam urat nadi jantungku
Perih, perih sekali
Malam ini aku kembali dalam renung yang panjang
Membawaku terbang pada masa-masa pelik
Kenangan-kenangan memilukan
Dan sampailah cerita cinta ini pada tragedi
Pada ironi yang sama
Mengapa?
Mengapa sesulit ini bahagia?
Mengapa sesukar ini cerita cinta aku genapi?
Sunyi tak mampu lagi membuatku tunduk
Gundah tak mampu lagi membuatku merasa takut
Tapi tragedi ini, ironi ini, benar-benar menelantarkanku pada kesedihan
Aku muak!
Muak sekali!
Medan, 17 September 2023
Atas nama cinta, aku tak tau lagi kemana mengadu
Jumat, 01 September 2023
Pagi Diantara Dua Sujudku
Sabtu, 26 Agustus 2023
Jatuh Cinta
Aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan benar dan bijaksana
Aku ingin
Aku ingin membersamaimu dengan zahir dan batin
Aku rasa
Aku merasaimu dalam ada dan ketetiadaan
Ijinkan aku masuk ke kamarmu melalui celah-celah kerinduan
Ijinkan aku menciummu melalui hormat dan kesyukuran
Kepada Eunoiaku,
Cibubur, 26 Agustus 2023
Kamis, 17 Agustus 2023
Tuhan, peluk aku
Kadang aku merasa sekesepian ini
Sedang Engkau setiap saat berusaha hadir
Sering aku merasa seresah ini
Sedang Engkau berusaha memelukku
Aku malu, Tuhan
Aku masih seingkar ini
Dalam sujudku pun aku masih memikirkan hidup
Sedang Engkau yang memberikan dan mengaturnya sekuasa-Mu
Aku mencari-cari makna dan alasan setiap yang terjadi
Padahal Engkau sang pemilik hikmah
Tuhan, hidup ini begitu melelahkanku menyiasatinya
Kerinduanku pada ketetiadaan telah di titik hujung
Aku ingin mengakhirinya atas kehendakku
Namun aku malu, aku gengsi pada-Mu
Di malam yang hanya ada aku dan semilir angin jatuh dari dinding gedung, aku ingin menangis sejadi-jadinya
Aku ingin tidur sehilang-hilangnya
Aku ingin lenyap sesenyap-senyapnya
Aku ingin menyerah
Nafas yang Engkau gratiskan padaku
Ilmu yang Engkau tiupkan padaku
Tak cukup untuk aku mengatasi masalah yang datang
Tak cukup untuk aku merasakan ada-Mu
Tuhanku, maafkan aku
Cinta-Mu tak mampu menggenapi keras hati
Cintaku tak mampu sebijak dan seluas dzat-Mu
Izinkan aku malam ini menangis dalam pangku-Mu
Selasa, 18 Juli 2023
Problema Insomnia III: Iblis Yang Sama
Jumat, 14 Juli 2023
Problema Insomnia II
Apa makna dari sunyi ini?
Apa arti dari diam ketika malam telah mengambil hari?
Aku memutuskan untuk tak pernah menghabiskan sebatang rokokku
Nikmat candu semu itu hanya sesaat sementara
Sedang kesepian terlalu mahal untuk dibunuh
Manakah lebih dekat, kekasih mu, ibumu atau renunganmu?
Kau selalu harus berani menghadapi hari didepanmu
Mengepalkan tangan melewati resiko dan kemungkinan yang tak mampu kau jangkau akalmu
Manakah lebih dekat?
Sedang kau perlu berdamai dengan luka
Kau perlu berteman dengan kegagalan berlusin itu
Aku memutuskan untuk tak pernah menyelesaikan tegukan anggurku
Nikmat candu semu itu hanya sesaat sementara
Sedang keresahan terlalu nyata untuk dipungkiri
Aku, kau dan semua yang bersekutu dengan benua kecilmu itu
Yang kau tutup rapat dari tilik dan sentuh
Aku ucapkan, Tuhan bersamamu
Jakarta, 00.23, 14 Juli 2023
Selasa, 06 Juni 2023
Eunoiaku
(sajak ini kuabadikan untuk sebulan kebersamaan kita, tunanganku, Nur Maysaroh Siregar; Cahaya Yang Menenangkan)
Cinta datang menjemput dalam gelap
Ketika arah tak mampu lagi kukuasai
Lembut tanganmu pun menggapai lelah ini
Tuk membagi dingin, mengisi sunyi
Pada akhirnya, cahaya teguh itu mampu meluluhkan kerasnya hati
Sayang, dengan ini, ijinkan aku, biarkan aku
Aku ingin berpulang selamanya pada pundakmu, hanya pelukmu
Tuk menangis sekerasnya pada pangkumu
Tuk merasai hangat hatimu, menemanimu
Atas hidup yang terlalu tangguh untuk kulalui sendiri
Sendu-ayumu parasmu adalah obat
Namun jarak ini memaksa kita menjaga rindu
Menahan dahaga mimpi
Menunda pertemuan
Kau begitu luas
Kau begitu raya
Kau begitu indah dalam berfikirmu, dalam mengurai aku serat demi serat
Kau membuatku kanak-kanak lagi
Kau membuatku merasai damai yang kunanti-nanti
Kau datang sebagai Eunoia yang agung
Takkan mudah kebersamaan ini
Takkan kekal ruang ini
Takkan cukup waktu bagi semesta memberikan kita kesempatan
Tapi aku ingin selalu adamu
Aku mau selamanya mendengar tawamu, keluhmu
Aku mau selamanya siang-malam menjagamu dari petir yang kau takuti itu
Untuk tahun-tahun penantian
Untuk setiap cerita yang telah berlalu
Terima kasihku untuk cahaymu yang selalu memanggilku pulang
Eunoiaku, kekasih hati, lengkapi aku, cukupi aku
Jakarta, 5 Juni 2023
Kamis, 06 April 2023
Cinta II
Kamis, 16 Maret 2023
Sajak Terakhir
Senin, 16 Januari 2023
Bagaimana Jika?
Senin, 12 Desember 2022
Wasiat Lima Ratus Ribu Rupiah
Senin, 19 September 2022
Takdir Cintaku
Selasa, 19 Juli 2022
Cinta
Minggu, 22 Mei 2022
Mengadu I
Minggu, 15 Mei 2022
Bukde-Pakde dan Pecel Lele
Kamis, 21 April 2022
Selamatkan Aku
Selasa, 12 April 2022
Malam 10 Ramadhan
Senin, 28 Maret 2022
Gadis Kecil Dalam Gerobak
Minggu, 13 Maret 2022
Aku Pasti Sudah Gila
Sabtu, 22 Januari 2022
Gadis Kecil dan Ibu Gajah
Rabu, 12 Januari 2022
Niscaya yang Kuamini
Jumat, 31 Desember 2021
30 Desember (Selamanya)
Senin, 06 Desember 2021
Hujan Desember Ba'da 'Isya
Sabtu, 13 November 2021
Sepotong Hari Tanpamu
Jumat, 08 Oktober 2021
Bersama Hujan
Sabtu, 04 September 2021
Yang manakah?
Rabu, 25 Agustus 2021
Melukis Ada-Mu
Selasa, 17 Agustus 2021
Segelas Kopi dan Kemerdekaanku
Rabu, 04 Agustus 2021
Sajak Kelima
Rabu, 30 Juni 2021
Cahaya Akan Datang
Rabu, 28 April 2021
Ternyata
Jumat, 26 Februari 2021
Cah'ya Senyum Rabb-ku
Senin, 15 Februari 2021
Hari Ini
Kamis, 03 Desember 2020
Jatuh
Minggu, 06 September 2020
Aku Fikir Aku Belum Mencintai Seluruhmu
Selasa, 18 Agustus 2020
Teka Teki Ketetapan Ilahi
Minggu, 05 Juli 2020
Pesan Bapak
Senin, 06 April 2020
Ikutlah Bersamaku
Selasa, 31 Maret 2020
Ada Semesta di Kepalaku: Tentang Kebodohan
Terkadang hasrat ingin menyakiti, menghancurkan orang lain atas kebodohannya, muncul menguasai benakku
Mereka orang-orang disekeitarku! Mereka harus hancur!
Aku tak henti-hentinya melihat dengan mata dan hatiku betapa manusai-manusia disekelilingku begitu menyedihkannya
Oh tidak! Nyaris dari seluruh mereka manusia ini
Mereka berjanji, mereka mengingkarinya
Mereka memohon, mereka mengkhiantainya
Mereka menangis, mereka menertawai diri mereka sendiri
Berkali-kali mereka lalim kepada diri mereka sendiri
Hasrat ini semakin hari semakin menyesak di dadaku
Tapi pada akhir renungan, lagi-lagi yang kupilih untuk kuhancurkan adalah justru diriku sendiri
Bukan mereka!
Mereka makhluk tak berdaya
Bahkan mereka bodoh, mereka tak mengetahuinya
Semesta-semesta di kepala mereka lenyap ditelan dunia
Di telan kekayaan-kemiskinan
Di telan kepintaran-kenaifan
Di telan kelapangan-kesempitan
Di telan kemolekan-keburukan
Makin aku hidup, makin aku ingin mengakhiri kehidupan ini
Makin aku menikmati duniawiku, makin kering tenggorokanku rasanya
Makin aku berfikir, aku pun makin ingin menghancurkan diriku sendiri
Tuanku Yang Maha Agung,
Kepada kuasa yang ku akui maha besarnya, yang menguasaiku dan seluruh apa yang tampak dan tak tampakku, dengan segenap kerendahan diri dan berlaksa mohon ku sujudkan kepalaku serendah-rendahnya menghadap-Mu:
Ampuni kami.
Sabtu, 15 Februari 2020
Aku Ingin Mengaku Malam Ini
Minggu, 08 September 2019
Akhir Cinta
Barangkali pertemuan kita tidak diwaktu yang tepat
Tuhan hanya ingin mengenalkanmu padaku
Sedang semesta hanya ingin pamer
Mika, kau menghukumku dengan sangat
Ternyata kepergianmu adalah hal terberat yang harus aku lalui
Aku kembalikan kau pada-Nya
Aku kembalikan hatiku pada Semesta
Padang, September 2019
Minggu, 02 Juni 2019
Punggung Sore
Aku tau aku tak bisa memilikimu
Aku tak bisa memeluk, apalagi menelanmu
Aku tau kau sengaja pergi dariku
Tapi welas asih Sang Semesta masih menyertaiku
Tak apa.
Meski hanya sekejap, singkat
Aku bersyukur masih bisa menikmati punggungmu
Terima kasih.
Mandeh, 24 Desember 2018