I
Tuan, bagaimana aku
bisa mencarimu?
Sudah, sudah aku ke
pucuk malam
Keterasingan, lalu sesat
dan hanyut
Telah ku cari di jemari
terik,
Aku berjalan jauh,
Aku bertemu senja di
hatiku
Sesekali tampak putih
mengalir dalam kalbu
Namun setelahnya lumpuh
Dan aku belum juga
menemu
Tuan, dimana Arsy-mu?
Pernah aku makan dan
minum dari suap tanganmu
Bercumbu gila di alas
bumimu
Begitu mudahnya segala
aku ada
Namun aku tak menyentuh
Dan kau tak pula menamu
Pada semua kebingungan,
di semua kehampaan menyiksa aku mencari:
Dimana Arsy-mu, Tuan?
Jika hidupku laku,
Dan jika milikku utuh
Maka ambil! Lalu sapa
aku di peluk Cah’ya-mu
Karena daging-daging
ini tak lagi membuatku kenyang
Karena candu-candu ku
tak memberi rasa nyaman
Karena degup kasih ini hanya
mencarimu
Dimana kau, Tuan?