Minggu, 05 April 2015

Kepalsuan Cinta

Hujan tak pernah sebasah ini
Dinding pun tak pernah selumut diam
Ketika aku memperdebatkan halaman retak
Seperti pecahan kaca yang menancap ditelapak kakiku
Terseok-seok aku mencari terang
Tapi kau memintaku menjadi malaikat
Agar bisa pantas bersamamu?
Kau tak pernah tau, Cinta:
Aku telah rela menjadi manusia dan meninggalkan langit hanya untukmu
Senja fana
Aku menampar wajah Tuanku untuk apa?
Untuk segelas susu?
Kau naif benar
Kau memintaku mengejarmu yang berlari
Untuk apa? Kepuasan nafsumukah?
Kau menyuruhku menebak hati yang tebal-tebal kau bungkus
Sial benar aku

Aku tak lagi ber-rumah
Hanya sisa kasih sayang-Nya lah aku mampu mengais hidup di kotor udara kalian manusia

Tunggu dulu!
Atau kau hanya jelma?
Bayang dari kepalsuan menjebak
Oh betapa sialnya aku,
Maka biar aku dipanggang api-Nya nanti
Biar saja belatung-belatung ini melumat dagingku
Lalu tidurlah kau dalam tawamu
Tawa yang pernah merayuku menjemputmu untuk bah’gia